Q.S. Al-Baqarah: 153
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Ayat kedua dari seri sabar. Minggu lalu saya berhenti di kecewa dan satu kalimat: "biar saja mereka urus sendiri". Minggu ini lanjutannya.
Kalau dibaca harfiah, kata kerja di ayat ini, ista'īnū, artinya "mintalah pertolongan". Ayat ini perintah untuk meminta. Dan justru di situ masalah saya.
Waktu itu saya sebenarnya sudah tahu kenapa saya kecewa. Saya malu meminta untuk dimasukkan ke kelompok. Saya ingin diajak, bukan mengajukan diri. Mereka tidak kunjung mengajak, dan saya terlalu malu untuk meminta. Kecewa itu tumbuh di celah antara dua hal itu.
Hari itu saya pulang kerja dan shalat, seperti biasa. Bukan shalat khusus karena sedang ada masalah, cuma shalat yang memang rutin. Tapi di situ tensinya turun. Emosi yang tadinya panas jadi sedikit lebih dingin, dan kepala saya jadi bisa dipakai lagi, bukan untuk membela diri, tapi untuk memikirkan apa yang sebenarnya perlu dilakukan.
Sorenya saya bicara jujur ke rekan saya. Saya bilang saya memang mencoba membantu orang-orang supaya mau berkelompok, dan saya bertanya kenapa saya tidak diajak. Saya juga mengaku bahwa saya kecewa, dan bahwa saya malu kalau harus meminta.
Jawabannya juga jujur. Tapi itu untuk minggu depan.
Yang saya pegang dari minggu ini: pengecualian dari watak halū' di Al-Ma'arij disebut tepat sesudahnya, "kecuali orang-orang yang shalat, yang tetap mengerjakan shalatnya". Yang disebut bukan orang yang shalat saat butuh, tapi orang yang shalatnya terus-menerus. Penolongnya sudah ada sebelum masalahnya datang.
Saya malu meminta kepada manusia, padahal yang diperintahkan justru meminta. Dan cara memintanya sudah saya kerjakan lima kali sehari.
Saya menghafal ayat ini bukan karena sudah pandai bersabar, tapi karena saya baru sadar bahwa sabar itu sendiri sesuatu yang harus diminta:
Kalau sabar adalah penolong, berapa kali saya mencoba menyelesaikan masalah tanpa memintanya lebih dulu?